Desa Pringgasela di Lombok Timur telah lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan tenun tradisional. Kain tenun Pringgasela memiliki motif yang khas, garis-garis tegas dengan perpaduan warna alami yang memanjakan mata. Namun, bagaimana nasib para penenun di era modernisasi dan fast fashion?
Para pengrajin, yang mayoritas adalah kaum perempuan, kini mulai berinovasi. Mereka tidak lagi hanya memproduksi kain panjang untuk upacara adat, tetapi juga mengkreasikannya menjadi produk fashion modern seperti kemeja, gaun, syal, hingga tas. Pewarnaan alam dari dedaunan dan kulit kayu lokal juga kembali digalakkan untuk menarik pasar eco-fashion global.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelatihan manajemen bisnis dan pemasaran digital, sangat dibutuhkan. Mempertahankan alat tenun gedogan bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan menjaga warisan agar tetap hidup dan memberikan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat setempat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar